:)

welcome.............

semoga bermanfaat...^^


_salam sukses selalu :)

[mahasiswi STAIN ZAWIYAH COT KALA LANGSA]

Kamis, 14 Maret 2013

Pilihan, keyakinan dan resiko




Hidup ini adalah pilihan, dan dibalik apa pun yang kita pilih akan ada resiko. Contoh sederhana, sekarang anda ingin sekali memasak  telur dadar, namun garam sedang tidak ada. Pilihannya adalah, anda tetap masak telur dadar dan menyantapnya, tapi tidak ada rasa, alias tawar. Atau anda tidak memasaknya sekarang (beli garam terlebih dahulu), namun alhasil telur dadar berasa (hehe). Anda akan pilih yang mana ? apa pun pilihan yang anda ambil, anda tetap akan menerima resiko. Itu hanya contoh terlalu sederhana (sampai-sampai bisa dikatakan contoh yang tidak menarik,hehe.).

Nah, tapi perlu kita ingat bahwa pilihan apapun yang kita ambil, kita harus memilihnya dengan “keyakinan”. why ?  jelas dong. Kalau tidak yakin, maka akan ada kata “penyesalan” nantinya. Ya toh ?. membahas ini, saya jadi teringat dengan sebuah kisah Bilal bin Rabbah (Budak pada masa Raulullah SAW)  ra ketika disiksa oleh tuannya. Ketika sang tuan bertanya pada Bilal “man huwa aqwa sayyiduka am rabbuka al-ahad ?” (siapakah yang lebih kuat tuanmu ataukah Tuhanmu Yang Esa ?) dengan keyakinannya yang teguh Bilal menjawab al-ahad.. al-ahad.. meskipun ia mendapat siksaan yang lebih berat karna jawabannya, ia tidak sedikitpun menyesali jawabannya. Why ?

Nyaan...ban... si “keyakinan” ini tadi lah yang membuat Bilal gak goyang (bahasa anak muda sekarang, maksudnya gak goyah-imannya). Karna yakin, ia siap menerima resiko dari pilihannya. Apakah hanya Bilal yang mampu begitu ? oh no banget.. siapapun mampu. Kesadaran lah mengontrolnya. Si yakin tadi itu berkaitan pula dengan si ikhlas. Hmm, tak putus-putus kaitannya.hehe
Intinya adalah ketika kita dihadapkan dengan pilihan, maka gunakan kesadaran kita untuk memilihnya, disamping itu, lihatlah resikonya pula. Dan kemudian pilihlah pilihan sesuai dengan kesadaran kita. Jangan lupakan si Yakin tadi, karna dia berperan penting. Dan ketika harus menghadapi si Resiko, panggillah si Iklas untuk mendampingi kita. J Lancarlah pilihan-pilihan kita.hehe

Wallahu a’lam bishshawab..

Minggu, 03 Maret 2013

ceritaku pagi ini


Em..pagi ini otakku seperti baru diinstal...segar...
milyaran urat syaraf masih setia  berada dalam organ-organ tubuhku...
dan inilah nikmat tiada tara..
terlebih, ketika mengingat bilyaran tulisan yang menggoresi kertas-kertas.
tulisan yang menceritakan hari-hari bersama mereka.

Ya..mereka....

Diwaktu senggang, bernyanyi bersama..
bercerita tanpa mengenal jadwal..
bahkan, ketika makan pun, tak mengenal siapa pemilik makanan tersebut.. :D
rasanya ingin menceritakan semua..
tapi...........uh,,,, tak pernah habisnya....ini lah kisahku bersama teman2...CND DOHA...
ini bait lagu yang pernah tercipta untuk DOHA

-dulu...kita dududk bersama.....
tertawa, bercanda, tersenyum selalu..
mereka bercerita disepanjang waktu..
tentang banyak kisah, yang dialami..

dan kini..semua tlah pergi dan aku sendiri....
dapatkah aku berjumpa kembali,,
oh...semua, dengar hatiku ini..
kubutuh mereka
yang slalu, temani aku..

oh Tuhan,.
mohon kembalikan persahabatan kami..
yang dulu..
pernah.. kami jalani....-

doha..doha..doha...
tempuhlah jalan yang sudah kita pilih sekarang...
jangan sia-siakan modal yang pernah kita dapati...
salam juang.DOHA. !! :)

Minggu, 06 Januari 2013

Monopoli Kenangan Tsunami





“Maria.. Maria..”, suara mama membangunkanku yang sedari tadi tidur dengan pulas. “shalat dulu, udah jam stengah tujuh. Nanti subuhnya kesiangan tu..”. dengan setengah sadar kuturuti kata mama dan melangkahkan kaki yang terasa berat sekali ke kamar mandi.
“e nong..maen monopoli yok.”. suara Ahmad yang melengking terasa menggemakan kamarku. Ahmad adalah adikku satu-satunya, ia berumur tujuh tahun. Kami selisih empat tahun. Tapi Ahmad tidak pernah memanggilku dengan sebutan ‘kak’, apalagi ‘kakak’, dengar saja cara dia memanggilku seperti tadi ‘nong’ atau dengan sebutan nama ‘Maria’. Dia memang adik yang sedikit menyebalkan, tapi kami saling menyayangi.
“Tunggu..belom solat ni.”.
“tu lah..cepat sikit lah !” sahutnya.
“asslamualaikum warahmatullah...”. “Maria cepatlah..”. belum sempat aku berdoa, Ahmad sudah menarik-narik mukenaku. Uh, rasanya dia memang sangat menjengkelkan. Aku pun menurutinya, kududuk tepat dihadapannya, kami bermain di atas tempat tidur. “sarah tutop pintu lu pet, nanti si Afif masok.. diganggunya kita ntiik..!”. dengan geram kusentil telinganya dan lagi-lagi menuruti kemauannya. Dia hanya tertawa. Emm, ngomong-ngomong, Afif adalah sepupuku. Dia masih berumur kira-kira tiga tahun. Kami serumah, karena kami masih tinggal bersama di rumah nenek. Rumahku ramai selalu, tidak pernah sepi, karna ada tiga kepala keluarga dirumah. Tapi pagi ini tidak lengkap, meskipun ini adalah hari minggu, Om ku tetap punya rutinitas berolah raga dengan rekan kerjanya.
“heh ! kok maen ambek-ambek aja hotelnya ?! uangnya mana ?!”. suaraku yang sedikit membesar membuat dia menyengir karna telah bermain curang. Tapi dia tetap saja membela diri, “Udah kok !!!”, malah suaranya tak kalah nantang. Itulah sifatnya.
Bbrrrkk... Suara hantaman pintu mengagetkanku. “nak..!! nak !! keluar...keluar..... gempa..”
Dengan panik aku pun keluar dari kamar dan berlari. Gempa yang luar biasa itu membuat kepalaku pusing, berdiri tak kuat, duduk pun tak tenang. Sepertinya mukaku tampak pucat, mama memelukku dan Ahmad. Semua keluargaku berkumpul di halaman rumah. Adik mamaku yang akrab kusapa dengan panggilan ‘mucut’ pun tampak sangat resah. Suaminya belum juga pulang. Ada sebagian tetangga yang histeris, bahkan mengira inilah kiamat. Aku tak kuasa melihat tiang listrik yang seakan akan jatuh tepat di ubun-ubunku, pagar rumah yang sekiranya akan terlepas dari rel rodanya, suara air dikamar mandi seperti sepuluh orang yang sedang mandi. Takbir, tasbih, tahlil terdengar keras di telingaku. Jantungku berdetak tak karuan, mataku mulai berkaca-kaca. Tangan dan kakiku terasa dingin, jelas ketakutan itu hadir. Ketika kucoba mengucap laa ila haillallah, nyaris tak terdengar. Suaraku bergetar, terbata. Ku panggil abiku yang berjarak denganku, tak kuizinkan jauh dari posisiku. Kutenangkan hati, karna kukira gempa mulai behenti. Om ku pun tiba dirumah, sepertinya ia sangat kelelahan. Kami mulai masuk ke rumah. Pakchikku segera melanjutkan makannya yang terhenti karena gempa tadi. Suasana sedikit tenang meski kami tentunya masih waspada akan adanya gempa susulan. Kusadari abi telah pergi ke asrama haji untuk mengunjungi saudara yang akan naik haji. Awalnya mama pun ikut, tapi tak aku izinkan karna sepertinya ada sesuatu yang akan terjadi, hatiku tak tenang.
“aer laot naeek........aer laot naek..........!!” terdengar riuh suara diluar. Ternyata penikmat kopi diujung lorong rumahku pada berlarian dan berteriak memberi tahu warga bahwa air laut naik. Aku tak paham maksud mereka, apakah itu sejenis banjir. Tak ada bayangan sedikitpun yang terlintas dibenakku. Namun kulihat mama dengan sigap mengambil tas berisikan ijazah-ijazah serta surat-surat. Begitu juga dengan mucut. Sepertinya gempa susulan mulai menggoncangkan bumi ini kembali. Pandanganku sedikit buyar, semua orang rumah terlihat panik. Sepertinya sesuatu yang hebat akan terjadi setelah ini. Suara kendaraan dan orang yang berteriak terus terdengar. Huru hara yang tak pernah aku alami sebelumnya.
“bagah...bagah.. !! aneuk miet yue ek laju lam moto[1]..!” terdengar tegas suara omku. Aku yang saat itu memakai baju kaos putih dan celana sebetis langsung duduk tepat disamping mama didalam mobil. Terlalu sempit mobil ini untuk kami keluarga besar. Kami pun pergi meninggalkan rumah. Mobil melaju kencang. Aku melihat kebelakang, ada air yang mengalir seperti ular disana, mulai memasuki lorong rumahku. Air berwarna hitam, dan sepertinya itu air laut yang dimaksud. Tapi entahlah. Yang jelas aku tak pernah melihat air yang seperti itu sebelumnya.
“maa.. abi kek mana ma,,?! Ma..telpon abi ma..” rasanya aku tak ingin pergi tanpa ada abi disampingku. Mama terus menghubungi nomor handphone abi, tapi nihil. Sinyal tak ada.
Bruukkkkgg .. mobil kami menabrak kendaraan lain ditikungan. Aku melihat jelas, abang yang memakai topi coklat itu terlompat keatas joek mobil kami dan jatuh ke aspal. Bisa kurasakan sakitnya. Tapi ia tak berkata sepatah katapun. Ia bangun sambil menggusuk pinggang kirinya dan terus membangunkan hondanya kemudian melaju kembali. Kelihatannya ia buru-buru sehingga tak memperdulikan badannya yang jelas saja sakit. ”Ya Allah, apakah ini kiamat ?”, hatiku mulai coba berdialog dengan Tuhan. “Ya Allah dimanapun abiku berada, jagalah ia. Aku masih ingin berkumpul bersama keluargaku dengan utuh. Ya Allah, sampai kapan Engkau goyangkan bumiMu ini ? selamatkanlah kami ya Allah dari cobaan ini.” Hatiku terus berbicara.
Kulihat air sungai di jembatan Simpang Surabaya sepertinya sebentar lagi akan meluap. Air hitam dan tumpukan sampah serta kayu-kayu mulai menutupi permukaan. Aku sempat memejamkan mata karena tak sanggup melihat gambar-gambar kehidupan yang sepertinya tak mungkin sebuah kenyataan. Ada mayat disana, tertipa timbunan kayu. Sejauh perjalanan aku lebih memilih hanyut dalam tahlilku. Tak sanggup memandang lepas.
Dipenghujung jalan Peniti kami terjebak air. Omku mulai pitam. Ini masalah, karna tak ada yang bisa menyetir selain omku. Kukipasi om dengan kertas ala kadarnya, dan sepertinya ini sedikit membantu. Satu per satu kendaraan berbalik arah menuju lintasan lain dan berusaha keluar dari jebakan air hitam itu. Aku tak mampu melihat sorotan mata disetiap sudut, semua berusaha menyelamatkan diri. Mereka berlari tak karuan. Bagi pengendara, tak lagi peduli spion. Korban tabrakanpun mulai tak dihirau. Aku berusaha tidak terayun pandangan. Alhamdulillah kami berhasil melewati suasana jalan yang menegangkan.
“kita kemana ma ?” suara Ahmad kembali terdengar setelah lama membisu. “ke Lambirah[2] nak.” Yah, aku pun merasa itu tempat yang aman, jauh dari kota.Ahmad tak menjawab, namun ada sebongkah pertanyaan yang tergambar dari cara ia menerima jawaban mama. “abi sekarang dimana ma.?” Ia mewakili pertanyaanku, dan kali ini dia bukan adik yang mmenjengkelkan. Mama tidak menjawab, hanya mengelus rambut Ahmad yang agak sedikit pirang.
 Sepanjang jalan menuju Lambirah entah berapa tiang listrik yang tumbang , aku lupa menghitungnya. Lima belas menit berlalu, kami sampai di rumah nenek Lambirah. Dan ternyata gempa masih menggoyangkan bumi Aceh. aku tak mau terpisah dengan mama, kemanapun mama beranjak, aku dan Ahmad ikut. Sampai larut malam kami belum bisa terlelap, guncangan yang terkalu sering itu membuat kepalaku pusing. Dan yang paling membuat hati tak karuan, kami belum tau keberadaan abi. Kubiarkan air mata mengalir dipipi saat terkurung rasa gelisah itu. Dan terlelap dalam kegelapan malam tanpa lampu.
Aku terbangun dan menyadari mama pergi untuk mencari abi. Singkat cerita*. Sore harinya abi menjumpaiku yang sedang duduk diujung kayu depan rumah. Aku memeluknya erat, kekhawatiranku hilang. Namun terlalu banyak luka goresan di kaki, tangan, dan juga bagian badan. Abi berhasil menyelamatkan diri dari timbunan sampah dan barang-barang yang terbawa air lainnya.
“abii.....” suara Ahmad menggabungkan suasana. Ia merebahkan badannya di punggung abi.
“didepan rumah ada mayat kira-kira seusia Maria dan Ahmad, abi teringat kalian.”
“kami gak liat mayat seusia abi, tapi tetap teringat abi. Hehe.” Ahmad membuatku tertawa geli.
***
Ini adalah hari pertamaku kembali sekolah setelah libur panjang akibat tsunami. Namun ini bukan sekolahku, ini hanya sekolah sementara selama kami mengungsi. Banyak kesan-kesan disana. Dan banyak hal yang menyadarkanku akan sesuatu. Aku kesekolah dengan kelengkapan seadanya. Yang biasanya menggunakan seragam rapi, dengan tali pinggang, namun hari itu masih tergambar jelas aku memakai kaus merah bergambar snoopy, celana training dan jilbab kurung yang aku pinjam dengan cecekku.[3] Yang biasanya buku-buku tertata rapi dalam tas ransel, hari itu aku hanya menyimpan buku tulis UNICEF dan perlengkapan lain didalam kantong kresek. Yang biasanya sepatu hitam dan kaus kaki putih membalut kaki, hari itu aku hanya beralaskan swalo. Tapi yang membuat hari itu ceria adalah kesadaran bahwa kebahagiaan bukan diukur dari materi, tapi dari keikhlasan. Aku ikhlas kesekolah, itulah yang membuat aku ceria seperti biasa. Tidak lebih dari sebulan aku sekolah di sana, selanjutnya kami kembali ke rumah induk, rumah nenek di Lampineung, tepatnya belakang SMP 6.
Lumpur yang terlalu tebal dan lantai rumah yang masih bersemen kasar menyulitkan kami membersihkan rumah, televisi yang biasanya duduk manis diatas meja kayu panjang itu sekarang dilantai dengan posisi terbalik. Barang-barang lainnya juga tak kalah acak. Tapi diluar sana masih terlalu banyak orang-orang yang kehilangan segalanya. Dan yang terpenting saat ini, keluargaku masih utuh.
“Maria, monopolinya selamat ! Tak ada lumpur yang menodai.” Suara Ahmad memecah keheningan saat kami sedang membersihkan rumah.
“monopoli apaan ?” aku yang sedang didapur menyahut dengan setengah menjerit.
“sini dulu !”
Aku pun menyusulinya yang sedang di kamarku. Tawa mulai mengisi kamar meski sedang mengunyah biskuit, saat kumelihat monopoli yang kami mainkan 26 Desember 2004 lalu, masih utuh setelah seminggu lamanya ia terduduk di atas tempat tidurku. Di tambah lagi dengan gaya Ahmad dan nyengirnya yang khas.
“haha. Karena spring-badnya mengapung, monopolinya selamat.” Seruku yang menganggap itu kesan yang lucu. Maklum, umurku waktu itu masih sekitar sebelas tahun.
“yok maen..”
Dengan setengah tertawa aku turuti ajakannya. Semoga bermain kali ini tidak diiringi gempa.
Krrrkkkkk.. bunyi tempat tidurku. Aku dan Ahmad spontan terkejut dan merasa tempat tidur goyang. Hah ?!! gempa ??!!




[1]  Cepat..cepat.. anak-anak suruh naik terus ke dalam mobil
[2]  di daerah Aceh Besar
[3]  Cecek adalah sebutan untuk adik ibu, sama seperti tante

Jumat, 14 Desember 2012

pemimpi

pandangan lurus takjubku
hamparan buih menenggelamkan harapan dari laut
namun, dengan lantang kukatakan
"akulah pemimpi"

dan kembali terik menyengat
jiwaku tenggelam dengan ombak
sudut mataku tajam memandang
dengan pasti kukatakan "Tuhan bersamaku"

aku rebah dipangkuan pasir putih
sekilas mereka bersayup merdu
hiburan penuh makna
dan aku masih "sosok pemimpi"

kugenggam sebongkah harapan dari langit
kuletakkan tepat dipinggir ombak
tak hilang, dan masih padu
dan aku akan terus menjadi "pemimpi"

Minggu, 09 Desember 2012

Schedule ? What for ?


Schedule ?
                Schedule yang dimaksud disini merupakan rincian jadwal yang akan kamu kerjakan pada pekan depan. Tips ini merupakan suatu cara untuk melatih seseorang pada tanggung jawab diri sendiri. Seseorang juga akan terlatih untuk meminimaliskan waktu yang terbuang sia-sia, dan ia akan memaksimalkan waktu yang ada untuk hal-hal yang bermanfaat. Ini sungguh merupakan cara untuk beraktifitas dengan efektif. Sepadat apa pun jadwal sekolah atau kuliah seorang siswa atau seorang mahasiswa, maka akan ada celah untuk waktu-waktu itu ia sesuaikan.

                Cara yang digunakan oleh remaja-remaja sukses dalam kesehariannya adalah menuliskan schedule yang berisikan jadwal-jadwal kegiatan wajibnya, jadwal kegiatan tugas, dan jadwal kegiatan tambahan. Dibawah akan kita temukan kelompok-kelompok kegiatan yang harus kita sertakan dalam keseharian kita.
1.       Jadwal Kegiatan Wajib
Pada seorang remaja ia akan menitikkan kegiatan ini sebagai kegiatan yang tidak bisa d tinggalkan, dan merupakan tujuan utamanya dalam menjalani hari-hari.
Bagi seorang siswa ia akan mengatakan sekolah merupakan kegiatan wajibnya. Bagi seorang mahasiswa, ia akan mengatakan kuliah merupakan kegiatan wajibnya. Bagi seorang guru ia akan mengatakan mengajar merupakan kegiatan wajibnya.
Jadi dapatlah kita simpulkan bahwa kegitan wajib itu adalah yang di kerjakan rutin dalam hari-hari sesuai profesi masing-masing

2.       Jadwal Kegiatab Tugas
Jadwal kegiatan tugas ini adalah syarat-syarat menuju kesuksesan dalam kegiatan wajib. Disini kita rincikan hal-hal yang berkenaan dengan profesi.
                      Bagi seorang siswa, kegiatan tugasnya itu adalah menyelesaikan PR (pekerjaan rumah), membuat ringkasan, melengkapi catatan, mengikuti les, mengikuti ekstrakulikuler, dan sebagainya. Dan bagi seorang mahsiswa, kegiatan tugas ini adalah membuat makalah, mencari referensi, melakukan penelitian, berdiskusi, membuat resume dan sebagainya.
                      Sehingga dalam menyelesaikan jadwal ini di butuhkan waktu luang. Pertanyaannya, bagaimana ia akan menyelesaikannya dengan tepat waktu bahkan tugas yang ia jalani belum lagi di tambah tugasnya membersihkan rumah, menyuci, dsb.
                      Disinilah kita membutuhkan penulisan jadwal yang akan kita lakukan.

3.       Jadwal Kegiatan Tambahan
Kegiatan tambahan yang dimaksud disini adalah kegiatan yang ingin kita lakukan disenggang waktu kegiatan wajib dan kegiatan tugas kita.
Seorang remaja akan ingin melakukan aktifitas yang kebanyakan remaja lain lakukan. Misalnya acra party kecil-kecilan, jalan-jalan keliling pusat kota bersama saudara-saudara atau teman-teman, melakukan perawatan kulit, shopping, menghiasi kamar mereka dengan aksesoris (wanita) atau melakukan hobi mereka masing-masing. Ini merupakan kegitan tuntutan kepada seseorang untuk melakukannya. Tapi bagi seorang yang tidak dapat memanage waktunya sebaik-baiknya, maka ia akan tebalut tumppukan kegiatan pada saat yang sangat padat.
Disinilah letak pentingnya seseorang merinici jadwal-jaadwalnya untuk tetap teratur dalam menjalani kegiatan masing-masing.

What for ?
              
               Penyusunan schedule sangat dibutukan pada seorang remaja. Karna remaja merupakan cucu Adam yang sedang menjalani hari-hatri dengan kepadatan jadwal, dan ia sedang dalam proses menemukan jalan benar dalam hidupnya. Sehingga terlalu banyak ingin ia ketahui. Itu membuat jadwalnya akan sibuk oleh hal-hal dibalik pengetahuannya. Ia akan mencoba bergaul dengan teman lawan jenisnya, kenapa ? karna ia ingin mengetahui efek dan manfaat apa dari itu. Dan bagamana dengan jadwal wajibnya, kegiatan tugasnya ? apakah akan terbengkalai ? jawabannya “iya”. Karna ia akan mengutamakan kegiatan itu diluar jadwal kegiatan wajib dan tugasnya.

Untuk menghindarinya, maka lengkapilah kegiatan-kegiatanmu dengan rincian jadwal (schedule). Disamping menyesuaikan kegiatan sesuai waktu, schedule juga mengingatkan kamu kepada sesuatu yang terlupakan pada saat yang seharusnya kamu lakukan itu. Seperti contohnya, seharusnya kamu ke toko jam untuk mengganti baterai jam tanganmu yang sudah mati, dan itu akan lebih sejalan jika kamu pergi seusai kuliahmu pada petang hari. Akan tetapi, karena kamu tidak memiliki catatan kecil untuk melakukan kegiatan-legiatanmu, maka terkadang hal sekecil itu akan terlupakan, dan bahkan kamu sendiri akan  melupakannya (mungkin). Dan seandainya kamu membuat schedule harian (lebih di tekan bagi orang-orang pelupa), maka setiap harinya akan ada kegiatan yang bermanfaat.

Dan pula ketika kamu meminjam buku perpustakaan yang berjangka waktu satu minggu, apabila kamu tidak melakukan pengingat untuk hal ini, maka kamu akan menunda-menunda membaca buku tersebut, dan akhirnya kamu pun lupa dengan jangka waktu yang telah ditetapkan. Dan tidak sedikit dari penghuni perpustakaan, mereka harus mengeluarkan sekian rupiah untuk membayar denda akibat hal ini. Bisakah kalian bayangkan karena hal apa ? ya itu dia, karna penundaan terhadap sesuatu, dan penundaan itu akibat kamu tidak memiliki patokan kegiatan.

Jadi dengan adanya pembuatan schedule harian, hal-hal yang ingin dilakukan tidak terlupakan, terutama hal-hal kecil. Apa pun yang ingin kamu lakukan tulislah. Setelah dicoba maka akan terasa manfaatnya.

                Ini opini yang saya terapkan dalam kehidupan saya sendiri. Bisa dibilang saya ini orang yang pelupa (hehe), tapi dengan adanya jadwal-jadwal yang saya atur seperti penjabaran diatas, sangat membantu dalam menyelesaikan tugas-tugas.
Mungkin tips ini juga membantu teman-teman, selamat mencoba..hehe J
                

Jumat, 16 November 2012

Pandangan Tentang Kuat, Tegar dan Ikhlas


Kesadaran

“Ya Allah, kuatkanlah hambaMu ini ketika berada dalam kepedihan hati. Tegarkanlah hambaMu ini ketika berada dalam masalah. Dan ikhlaskan hati hamba menghadap segala liku-liku kehidupan yang rasanya sulit dijalani. Amin ya Rabb”. Ini adalah potongan doa yang kupanjatkan setiap selesai shalat. Dan belakangan ini aku merenungkannya. Mengapa aku cengeng setiap ada hal-hal yang mengganjal ? kenapa aku lebih banyak mengeluh dari pada bersyukur ? padahal aku kan terus berdoa. Dan teman-teman tau gak apa yang aku lupakan ? aku lupa untuk berusaha dengan dengan peluang yang telah Tuhan berikan padaku. Aku menyia-nyiakannya dengan terus saja memelihara keburukan itu.
Tuhan mempertemukan kita dengan masalah, baik lahir maupun batin. Bukan berarti Tuhan membiarkan kita untuk merasa kesulitan, namun Tuhan ingin mengabulkan doa yang kita panjatkan, teman-teman. Ketika dalam masalah maka berusaha lah tenang, rileks, dan berfikir, disitulah lahirnya sebuah kekuatan dan ketegaran yang selama ini kita minta. Dan serahkan semuanya kepada Allah, maka disitulah lahir sebuah keikhlasan. Saya ingin mengulang kata-kata yang pernah saya tulis sebelumnya, berbaik sangkalah pada-Nya, karna Allah Maha mengetahui yang terbaik untuk hambanya.


     Berbuat baik ibarat menanam padi

Aku ingat kata-kata seorang teman se-unitku  ketika ia menjawab sebuah pertanyaan dari teman yang lainnya, bahwa orang berusaha melakukan kebaikan (berubah menjadi lebih baik) maka diibaratkan seperti orang yang menanam padi. Ketika kita menanam padi, maka rumput akan tumbuh. Dan lain halnya ketika ia menanam rumput, padi tidak akan tumbuh. Artinya apa ? ketika seseorang berusaha menjadi lebih baik, maka banyak rintangan yang muncul beriringan. Itu adalah untuk menguji kemantapan kita. Dan untuk melakukan keburukan, itu gampang saja melakukannya.


     Sosok Sumayyah dan Malahayati

Terbesit dihati dihati ingin menjadi wanita shaleha yang tegar dan teguh layaknya sosok Sumayyah , dan menjadi wanita pemberani seperti Laksamana Malahati yang gigih. Apa pantas ?? (ini sih kata-kata khas-nya dosen favoritku. Hehe). Pantas aja dong. Ketegaran Sumayyah mempertahankan tauhidnya sungguh luar biasa. Apakah dengan secara tiba-tiba ia disebut wanita yang tegar ? Tidak. Tuhan mempersiapkan sesuatu untuk mengujinya agar ia menjadi tegar dan teguh. Inilah cara Tuhan menjadikan seseorang itu kuat. Bagaimana dengan pahlawan Aceh Malahayati ? ya, ia adalah sosok wanita yang tercatat dalam sejarah sebagai laksamana pertama di dunia. Ia memimpin 2000 pasukan inong balee (janda-janda pahlawan yang gugur) dan berhasil membunuh Cornelis de Houtman. bisa kita contoh dari sisi keberaniannya. Luar biasa kan..

Tips menjadi wanita yang  kuat, tegar dan ikhlas dalam menghadapi kesulitan (ala sarah. hehe).

     1.  Tenangkan pikiran, dan coba rileks-kan badan (atur posisi badan yang nyaman)
   2. Beri sebuah senyuman untuk diri sendiri. Walaupun senyuman yang asal dan terpaksa. Tapi berusahalah tersenyum. Karna senyuman melahirkan kekuatan.
     3.  Tutup mata, kemudian bicaralah dalam hati “aku kuat, aku ikhlas, karna aku bersama Allah”.
     4.   Tarik nafas panjang dan lepaskan perlahan
     5.  Bukalah mata, dan rasakan sensasinya yang berbeda. Hehe
     6.  Barulah berfikir apa yang harus dilakukan kemudian

Tips 1 sampai 4 adalah untuk benar-benar menenangkan pikiran, karena ketika dalam kesulitan atau keadaan yang buruk, kita terhambat untuk berfikit positif, maka tenangkanlah pikiran terlebih dahulu baru kemudian fikirkan apa yang seharusnya dilakukan. Ini tips dariku, mudah-mudahan bermanfaat.

Maka mulailah dari sekarang sama-sama kita kendalikan diri kita untuk menjadi sosok yang kuat.
Allau Akbar................!! :)